BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sebagian besar lembaran sejarah Psikolog
mengungkapkan bahwa kondisioning merupakan bentuk belajar yang paling sederhana
dan dapat dipahami secara keseluruhan. Sebab menurut ahli bahwa implementasinya
ke arah pembentukan organisasi kelas bersifat lebih rendah menguasainya
dibanding proses-proses belajar konsep, berpikir, dan menyelesaikan masalah.
Salah satu tokoh dalam menciptakan belajar classical conditioning ialah Ivan
Pavlov, ia dikenal sebagai tokoh behaviorisme.
Pada faktanya, pada saat Thorndike mengerjakan riset
utamanya dalam menemukan teori belajar koneksionisme yang tidak diragukan lagi
kehebatannya , Pavlov jua sedang meneliti proses belajar. Dia juga tidak suka
dengan psikologi subjektif dan hampir saja tidak mau mempelajari refleks yang
dikondisikan karena bersifat psikis. Meskipun Pavlov tidak terlalu menghargai
para psikolog, dia cukup menghormati Thorndike dan mengakuinya sebagai orang
pertama yang melakukan riset sistematis terhadap proses belajar pada binatang.
Teori Classical Conditioning yang merupakan bagian
dari teori Behaviorisme mengatakan bahwa peniruan sangat penting dalam
mempelajari bahasa. Teori ini juga mengatakan bahwa mempelajari bahasa
berhubungan dengan pembentukan hubungan antara kegiatan stimulus-respon dengan
proses penguatannya. Proses penguatan ini diperkuat oleh suatu situasi yang
dikondisikan, yang dilakukan secara berulang-ulang. Sementara itu, karena
rangsangan dari dalam dan luar mempengaruhi proses pembelajaran, anak-anak akan
merespon dengan mengatakan sesuatu. Ketika responnya benar, maka anak tersebut
akan mendapat penguatan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Saat proses ini
terjadi berulang-ulang, lama kelamaan anak akan menguasai percakapan.
Kalimat bijak mengungkapkan sebaik-baik manusia
ialah yang bermanfaat untuk manusia, mungkin demikianlah ungkapan penulis bila
tidak berlebihan terhadap diri Ivan Pavlov yang demikian gemilang, telah
mengiringi pemerhati teori belajar untuk senantiasa tidak jenuh mengulasnya,
menurut Ivan Pavlov bahwa teori ini “klasik”. Sehingga kesimpulan teori yang ia
tangkap”respon” dikontrol oleh pihak luar; ia menentukan kapan dan apa yang
akan diberikan sebagai “stimulus”. Demikianlah kejeniusan Ivan Pavlov mengenai
teori classical conditioning sebagai dasar hasil eksperimennya.
Akibatnya, Ivan Pavlov telah melahirkan model
belajar teori classical conditioning bermanfaat, maka merupakan keharusan
penulis untuk menyampaikan kembali, guna mewujudkan dinamika teori Ivan Pavlov
sebagai dasar pengembangan dalam praktek belajar mengajar, sehingga dapat
berjalan dengan baik dan tercapai tujuan yang diharapkan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Biografi Ivan
Pavlov
Ivan
Petrovich Pavlov (14 September 1849 – 27 Februari 1936) adalah seorang fisiolog dan dokter dari Rusia. Ia dilahirkan di
sebuah desa kecil di Rusia tengah. Keluarganya mengharapkannya menjadi pendeta,
sehingga ia bersekolah di Seminari
Teologi.
Setelah membaca Charles
Darwin, ia menyadari bahwa ia lebih banyak peduli untuk pencarian
ilmiah sehingga ia meninggalkan seminari ke Universitas
St. Petersburg. Di sana ia belajar kimia dan fisiologi,
dan menerima gelar doktor pada 1879. Ia melanjutkan
studinya dan memulai risetnya sendiri dalam topik yang menarik
baginya: sistem
pencernaan dan peredaran darah. Karyanya pun terkenal,
dan diangkat sebagai profesor fisiologi di Akademi
Kedokteran Kekaisaran Rusia.
Karya yang membuat Pavlov
memiliki reputasi sebenarnya bermula sebagai studi dalam pencernaan. Ia sedang
mencari proses pencernaan pada anjing,
khususnya hubungan timbal balik antara air ludah dan kerja perut. Ia sadar kedua hal
itu berkaitan erat dengan refleks dalam sistem saraf otonom. Tanpa air liur,
perut tidak membawa pesan untuk memulai pencernaan. Pavlov ingin melihat bahwa
rangsangan luar dapat memengaruhi proses ini, maka ia membunyikan metronom dan di saat yang sama ia mengadakan
percobaan makanan anjing. Setelah beberapa saat, anjing
itu -- yang hanya sebelum mengeluarkan liur saat mereka melihat dan memakan
makanannya -- akan mulai mengeluarkan air liur saat metronom itu bersuara,
malahan jika tiada makanan ada. Pada 1903 Pavlov menerbitkan hasil eksperimennya dan menyebutnya "refleks
terkondisi," berbeda dari refleks halus, seperti. Pavlov menyebut proses
pembelajaran ini (sebagai contoh, saat sistem saraf anjing menghubungkan suara metronom
dengan makanan) "pengkondisian". Ia juga menemukan bahwa refleks
terkondisi akan tertekan bila rangsangan ternyata terlalu sering
"salah". Jika metronom bersuara berulang-ulang dan tidak ada makanan,
anjing akan berhenti mengeluarkan ludah.
Pavlov lebih tertarik pada
fisiologi ketimbang psikologi.
Ia melihat pada ilmu psikiatri yang masih baru saat itu sedikit
meragukan. Namun ia sungguh-sungguh berpikir bahwa refleks terkondisi dapat
menjelaskan perilaku orang gila. Sebagai contoh, ia mengusulkan, mereka yang
menarik diri dari dunia bisa menghubungkan semua rangsangan dengan luka atau ancaman yang mungkin. Gagasannya
memainkan peran besar dalam teori psikologi behavioris, diperkenalkan oleh John Watson sekitar 1913.
UniSoviet -- dan di seluruh dunia. Pada 1904, ia memenangkan Penghargaan
Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran dalam penelitiannya tentang pencernaan. Ia adalah orang
yang terang-terangan dan sering bersilang pendapat dengan pemerintah Soviet dalam hidupnya, namun karena
reputasinya, dan juga karena bangganya penduduk senegerinya kepadanya,
membuatnya terjaga dari penganiayaan. Ia aktif bekerja di laboratorium sampai kematiannya di usia 86.
2.2.
Observasi Empiris
Dalam tahun-tahun terakhir dari abad ke 19 dan
tahun-tahun permulaan abad ke-20, Pavlov dan kawan-kawan mempelajari proses
pencernaan dalam anjing. Selama penelitian mereka para ahli ini memperhatikan
perubahan dalam waktu dan kecepatan pengeluaran air liur. Dalam
eksperimen-eksperimen ini Pavlov dan kawan-kawannya menunjukkan, bagaimana
belajar dapat mempengaruhi perilaku yang selama ini disangka refleksif dan
tidak dapat dikendalikan, seperti pengeluaran air liur. Berangkat dari
pengalamannya, Pavlov mencoba melakukan eksperimen dalam bidang psikologi
dengan menggunakan anjing sebagi subjek penyelidikan. Untuk memahami
eksperimen-eksperimen Pavlov perlu terlebih dahulu dipahami beberapa pengertian
pokok yang biasa digunakan dalam teori Pavlov sebagai unsur dalam
eksperimennya.
1.
Perangsang tak bersyarat = perangsang alami =
perangsang wajar = Unconditioned Stimulus (US); yaitu perangsang yang memang
secara alami, secara wajar, dapat menimbulkan respon pada organisme, misalnya:
makanan yang dapat menimbulkan keluarnya air liur pada anjing.
2.
Perangsang bersyarat = perangsang tidak wajar =
perangsang tak alami = Conditioned Stimulus (CS) yaitu perangsang yang secara
alami, tidak menimbulkan respon; misalnya: bunyi bel, melihat piring, mendengar
langkah orang yang biasa memberi makanan.
3.
Respon tak bersyarat = respon alami = respon wajar =
Unconditioned Response (UR); yaitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang tak
bersyarat (Unconditioned Stimulus = UR).
4.
Respon bersyarat = respon tak wajar = Conditioned
Response (CR), yaitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang bersyarat
(Conditioned Response = CR),
Pavlov
kemudian menekan sebuah tombol dan keluarlah semangkuk makanan di hadapan
anjing percobaan. Sebagai reaksi atas munculnya makanan, anjing itu
mengeluarkan air liur yang dapat terlihat jelas pada alat pengukur. Makanan
yang keluar disebut sebagai perangsang tak berkondisi (unconditioned stimulus)
dan air liur yang keluar setelah anjing melihat makanan disebut refleks tak
berkondisi (unconditioned reflects), karena setiap anjing akan melakukan
refleks yang sama (mengeluarkan air liur) kalau melihat rangsang yang sama pula
(makanan).
Kemudian
dalam percobaan selanjutnya Pavlov membunyikan bel setiap kali ia hendak mengeluarkan makanan. Dengan
demikian, anjing akan mendengar bel dahulu sebelum ia melihat makanan muncul di
depannya. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan pada saat
yang sama keluarnya air liur diamati secara terus-menerus. Mula-mula air liur
hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak berkondisi), tetapi
lama-kelamaan air liur sudah keluar ketika anjing baru mendengar bel. Keluarnya
air liur setelah anjing mendengar bel disebut sebagai refleks berkondisi (conditioned
reflects), karena refleks itu merupakan hasil latihan yang terus-menerus
dan hanya anjing yang sudah mendapat latihan itu saja yang dapat melakukannya.
Bunyi bel jadinya rangsang berkondisi (conditioned reflects). Kalau
latihan itu diteruskan, maka pada suatu waktu keluarnya air liur setelah anjing
mendengar bunyi bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi makanan yang
mengikuti bunyi bel itu. Dengan perkataan lain, refleks berkondisi akan
bertahan walaupun rangsang tak berkondisi tidak ada lagi.
Pada
tingkat yang lebih lanjut, bunyi bel didahului oleh sebuah lampu yang menyala,
maka lama-kelamaan air liur sudah keluar setelah anjing melihat nyala lampu
walaupun ia tidak mendengar bel atau melihat makanan sesudahnya. Demikianlah
satu rangsang berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang berkondisi lainnya
sehingga binatang percobaan tetap dapat mempertahankan refleks berkondisi
walaupun rangsang tak berkondisi tidak lagi dipertahankan.
5.
6.
Prosedur Training : CS US UR
7.
Demonstrasi pengkondisian :
CS CR
8.
Kesimpulan
yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain
daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi
setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) di mana
refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak
berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi.
Eksperimen yang dilakukan oleh pavlov
menggunakan anjing sebagai subyek penelitian. Berikut adalah gambar dari
experimen Pavlov :
2.3. Hukum-hukum belajar Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
1)
Law of Respondent Conditioning, yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika
dua macam
stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai
reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2)
Law of Respondent Extinction, yakni hukum pemusnahan yang dituntut.
Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu
didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan
menurun.
2.4. Prinsip-prinsip Utama dalam Observasi
Pavlov:rasa tidak takut ketika seekor anjing gal
a)
Rangsangan
yang dikondisikan
Dalam pengkondisian
klasikal rangsangan yang dikondisikan (conditoned stimulus-Cs), adalah
rangsangan yang sebelumnya netral, yang kemudian menghasilkan respons yang
dikondisikan setelah dipasangkan (asosiasi) dengan US. Respons yang
dikondisikan ( conditional respons-CS), saat sebelumnya terjadi asosiasi
CS-US(pavlov,1927).dalam mempelajari respons anjing terhadap berbagai
rangsangan yang diasosiasikan dengan bubuk daging, Pavlov mencoba membunyikan
bel sebelum memberi bubuk daging psda anjingnya. Hingga pada saat eksperimen
dilakukan, bunyi beltindak memiliki efek tertentu terhadap anjing ,kecuali
bunyi bel tersebut dapat menbangunkan anjing dari tidurnya. Bel tersebut pada
awalnya merupakan sebuah rangsangan yang netral. Namun ajing mulai
mengasosiasikan bel dengan makanan, dan mengeluarkan air luir ketika mendengar
bunyi bel. Bel tersebut menjadi rangsangan yang tekondisi( CS) dan air liur
telah menjadi sebuah responsyang dikondisikan (CR).
b)
Hubungan
antara US dan CS (Akuisisi akuisisi)
Dalam pengkondisian
klasik merupakan merupakan pembelajaran awal dari hubungan antara
rangsangan-respons. Pembelajaran
ini meliputi sebuah rangsangan netral yang di asosiasikan dengan UC,dan
kemudian menjadi rangsangan yang dikondisikan (CS) yang menghasilkan (CR). Dua
hal yang paling penting dalam akusisi adalah waktu dan kemungkinan atau prediktabilitas.
Selang
waktu antara CS
dan US merupakan salah
satu hal yang penting dalam pengkondisian klasik (Bangasser et al,2006;McNally
& Westbrook,2006. Selang waktu tersebut menggambarkan kesinambungan atau
keterhubungan rangsangan dalam ruang dan waktu. Respon yang dikondisikan
terbentuk ketika CS & UC saling berlanjut, muncul secara dekat dan
bersamaan. Sering kali, jarak waktu yang optimal antara CS-UC hanyalah sepersekian detik ( kimble, 1961)
dalam experimen Pavlov, jika bel berbunyi 20 menit setelah makanan
diperlihatkan, mungkin ajing tersebut tidak akan mengasosiasikan bel dalam
makanan.
Robert
Rescorla(1966,1988) meyakini bahwa agar sebuah pengkondisian klasik terjadi,
tidak hanya dibutuhkan selang waktu antara CS-UC, namun juga dibutuhkan suatu kemungkinan.
kemungkinan(contigency)dalam pengkondisian klasik berarti kemunculan suatu
rangsangan diikuti rangsangan yang lain dapat diramalkan.contohnya seperti
cahaya kilat, biasanya diikuti dengan bunyi gemuruh halilintar. Hal ini membuat
kita menutup telingga kita. Hal ini membuat kita menutup telingga kita saat
melihat cahaya kilat,sebagai antisipasi datangnya bunyi gemuruh halilintar.
c)
Generalisasi &
Diskriminasi
Generalisasi (generalization) dalam pengkondisian klasik
merupakan kecenderungan sebuah rangsangan yang baru yang mirip dengan rangsangan yang
dikondisikan (CS) asli. Menghasilkan respons yang sama dengan respos yang
dikondisikan (CS) (Rescorla, 2006a;Shaban et al,2006). Generalisasi memiliki
nilai mencegah pembelajaran menjadi terlalu spesifik. Contohnya, kita tidak
perlu belajar mengemudi dari awal lagi ketika kita berganti mobil atau
mengendarai mobil dijalanan yang berbeda
dengan tempat kita belajar.
Generalisasi rangsangan tidak selalu
bersifat menguntungkan. Contohnya seperti, seekor kucing yang
menggeneralisasikan bahwa ikan kecil tidak berbahaya, kucing tersebut akan
bermasalah ketika menemui ikan piranha. Oleh karena itu perlu bagi kita untuk
mendiskriminasikan rangsangan.
Contoh lainnya dalam pembelajaran yaitu Guru yang
awalnya memulai pelajaran dengan senyum dan ramah serta mengawali pelajaran
dengan memberi apersepsi atau pun metafora sebelum memberikan materi pelajaran
atau latihan soal dirasa siswa itu merupakan stimulus yang dapat membangkitkan
minat dan motivasi siswa untuk belajar. Stimulus tersebut akan digeneralisasi
oleh siswa bahwa guru tersebut orangnya baik, mengerti kemauan siswa dan dapat
diajak berdiskusi serta nantinya dalam memberikan penilaian buat siswa tidak
pelit dan akan memberikan nilai yang bagus.
Diskriminasi (diskrimintion)dalam
pengkondisian klasik merupakan sebuah proses belajar untuk mengrespons yang
lain (J.Harris,2006;Murphy,Baker,& Fouquet,2001). Untuk menghasilkan
diskriminasi, Pavlov memberikan makanan pada kepada anjingnya hanya setelah
bunyi bel dan bunyi lainya. Dengan cara ini,anjing belajar membedakan antara
bunyi bel dan bunyi lainya. Contohnya
dalam pembelajaran yaitu guru yang biasa memberikan pelajaran dengan latihan
soal dan usai memberikan pelajaran menyuruh siswa mengerjakan latihan soal yang
ada dalam buku teks dipapan tulis. Bila penyelesaian soal tersebut benar maka
guru akan tersenyum dan mengatakan “bagus”. Stimulus ini akan ditangkap oleh
siswa dan dianalogikan bahwa perkataan “bagus” berarti jawaban siswa tersebut
“benar”. Ini akan berbeda jika siswa mengerjakan soal dipapan dan guru cuma
tersenyum tanpa mengatakan bagus, karena siswa akan
menganalogikan
jawaban yang dibuatnya belum tentu “benar”. Jadi siswa akan selektif
mengartikan senyum guru.
d)
Pengkondisian
tingkat tinggi
Setelah CS
dipasang kan dengan US
beberapa kali, ia dapat dipakai seperti US. Yakni setelah dipasangkan dengan
US,CS menggembangkan properti penguat diri, dan ia dapat
dipasangkan dengan CS kedua
untuk
menghasilkan CR. Mari kita pasangkan, Misalnya kedipan cahaya (CS) dengan
penyajian cahaya saja akan menyebabkan hewan mengeluarkan liur. Keluarnya air
liur setelah ada kedipan cahaya, tentu saja,adalah respons yang dikondisikan.
Sekarang cahaya tersebut telah menimbulkan air liur,dan ia
dapat dipasangkan lagi dengan CS kedua, misalnya suara degungan. Arah pendampingan pasangan itu sama dengan
pengondisian awal: pertama CS baru suara berdengung disajikan, dan jemudia
disajikan cahaya. Perhatikan bahwa makanan tidak lagi dipakai di sini. Setelah
beberapa kali dipasangkan, suara saja sudah menyebabkan hewan mengeluarkan air
liur. Dalam contoh ini, CS pertama dipakai seperti US yang digunakan untuk
menghasilkan respons yang dikondisikan disebut dengan pengkondisian tingkat
kedua. Kita juga mengatakan bahwa CS pertama mengembangkan properti penguat
sekunder karena ini digunakan untuk respons terhadap stimulus yang baru. Karenanya,
CS ini dinamakan secondary reinforcer (penguat sekunder). Karena penguat
sekunder tidak dapat berkembang tanpa US, maka US dinamakan primary
reinforce(penguat primer).
Prosedur ini dapat dilanjutkan satu tinggkat lagi. CS kedua
(suara) dapat dipasangkan dengan CS lainya, seperti nada2.000-cps. Arah
pendampingan masih sama dengan sebelumnya:pertama nada, kemudiansuara
dengungan. Akhirnya, nada saja sudah cukup untuk menyebabkan hewan berliur.
Jadi, melalui pemasanganya dengan cahaya, suara dengungan menjadi penguat
sekunder, dan karenanya dapat dipakai untuk mengkondisikan respons ke stimulus
yang baru,nada 2.000-cps. Ini adalah pongkondisian tingkat ketiga pengkondisian
tingkat kedua dan ketiga ini dinamakan bigher-order conditioning (pengkondisian
tingkat tinggi)
Karena pengkondisian tingkat tinggi harus dipelajari selama
proses,maka sangat sulit,jika bukanya mustahil,untuk melampaui pengkondisian
tingkat tiga. Dalam kenyataanya studi seperti ini sangat jarang. Saat kita
melewati pengkondisian tingkat kedua dan ketiga, besaran CS menjadi semakin
kecil dan CR hanya bertahan selama segelintir percobaan. Dalam contoh ini, nada
hanya menghasilkan sedikit liur dan itupun hanya terjadi pada saat disajikan
awal.
Contoh
dalam pembelajaran yaitu Stimulus yang telah membangkitkan minat dan motivasi
siswa untuk belajar pada mata pelajaran tertentu (misalnya sains) yang dirasa
sulit, akan melekat pada diri siswa minat dan motivasi tersebut. Dan bila siswa
dihadapkan pada mata pelajaran lain (misalnya matematika) yang juga dirasa
sulit, maka minat dan motivasi untuk mempelajari mata pelajaran tersebut akan
sama besarnya dengan minat dan motivasi belajar pelajaran terdahulu.
e)
Pelenyapan
dan pemulihan secara spontan.
Setelah
mengkondisikan seekor anjing untuk mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi
bel, Pavlov membunyikan bel ber ulang-ulang dalam suatu sesi dan tidak
memberikan makana sama sekali. Hasilnya adalah pelenyapan (extinction), saat
ada pengkondisian klasik yang berarti melemahkan respons yang dikondisikan(CR) disebabkan oleh hilangnya rangsangan yang
tidak dikondisikan(Barad.Gean & Luts,2006;Joscelyne & kehoe,2007 tanpa
asosiassi yang belkelanjutan dengan rangsangan yang tidak dikondisikan(US), rangsangan yang
dikondisikan (CS) akan kehilangan kekuatanya untuk menghasilkan respons yang
dikondisikan (CR). Contohnya dalam
pembelajaran yaitu Guru yang awalnya memulai pelajaran (misalnya sains) dengan
senyum dan ramah serta mengawali pelajaran dengan memberi apersepsi atau pun
metafora sebelum memberikan materi pelajaran ataupun latihan soal dirasa siswa
itu merupakan stimulus yang dapat membangkitkan minat dan motivasi siswa untuk
belajar. Namun bila kemudian hari guru tersebut masuk dengan senyum dan tanpa
memberikan apersepsi dan metafora dan langsung memberikan latihan soal, maka
mungkin minat dan motivasi siswa untuk belajar dapat berkurang dan bila kondisi
tersebut terjadi berulang-ulang dalam waktu lama, maka kemungkin besar minat
dan motivasi siswa untuk belajar dapat hilang.
Pelenyapan
tidak selalu berarti berakhirnya respon
yang dikondisikan ( Budi moody, Sunsay & Bouton;2006) keesokan harinya
setelah Pavlov menghilangkan air liur sebagai respon yang dikondisikan dari
bunyi bel,ia membawa anjing tersebut ke labolatorium dan menbunyikan bel, namun
tetap tanpa memberikan bubuk daging . anjing tersebut mengeluarkan air liur
,menandakan bahwa respons yang sebelumnya telah punah dapat secara
sepontanmuncul kembali. Pemulihan spontan (spontanius recovery) adalah proses
pengkondisian klasik saat repon yang dikondisikan dapat kembli muncul setelah
ada jeda waktu beberapa saat tanpa dilakukan pengkondisian lebih
lanjut(Rescorla,2005). Coba perttimbangkan sebauh contoh dari peulihan spontan
dari yang pernah anda alami (anda berfikir bahwa anda telah benar-benar
melupakan (pelenyapan) mantan pacar anda,tetapi iba-tiba saja anda berada dalam
sebuah konteks tertentu dan mendapatkan gambaran mental mantan pacar anda
,disertai dengan reaksi emosianal kepadanya seperti pada masa lalu (pemulihan
spontan). Untuk memperkuat pemahaman anda mengenei
akuisisi,generalisasi,diskriminasi,dan pelenyapan dalam pengkondisian klasik,
berikut ini adalah cotohbagaimana konsep-konsep diatas terefleksikan dari
pengalaman seoran anak yang pergi ke dokter gigi.
I.
Akuisisi : seorang anak
belajar untuk takut (CR) pergi keruang dokter gigi, dengan mengasosiasikan
kunjungan tersebut dengan respons emosional yang tidak dipelajari(UCR) terhadap
rasa sakit ketika mengali pembersihan karang gigi(UCS).
II.
Generalisasi : anak
tersebut takut dengan keseluruhan ruang dokter gigi dan tempat-tempat yang
mirip,termasuk ruang dkter umumdan orang dewasa didalamnya yang memakai pakaian
medis berwarna putih yang memiliki bau-bau dan bunyi-bunyian tertentu.
III.
Diskriminasi : anak
tersebut pergi keruang dokter yang merupan dokter ibunya, dan belajar bahwa
tidak ada asosiasi ruang tersebut dengan rasa sakit dengan UCS
IV.
Pelenyapan : anak
tersebut dari waktu ke waktu pergi ke dokter gigi beberapa kali dan tidak
memiliki pengalaman yang menyakitkan,sehingga rasa takut anak tersebut terhadap
ruangan dokter gigi hilang, setidaknya untuk sementara samapi anak tersebut
mengalami penglaman menyakitkan lagi ketika karang giginya diberi perawatan.
Para
peneliti telah menemukan bahwa mayoritas ketakutan pada dokter gigi berasal
dari masa kecil, melalui pengkondisian klasik.
Di amerika serikat tidak
terdapat sistem perawatan esehatan secara menyeluruh,dan anak-anak pergi ke
dokter gigihanya jika mereka memiliki masalah gigi. Sehingga, anak Amerika
merasa bahwa perawatan gigi sebagai sesuatu yang menyakitkan dan sesuatu yang
harus dihindari. Dengan demikian, perbedaan pengalaman budaya dapr mempengaruhi
munculnya respon emosional yang terkondisi.
2.5. Konsep Teoretis Utama
Para
ahli psikologi dalam rumpun behaviorisme ingin meneliti psikologi secara
objektif. Mereka berpendapat bahwa kesadaran merupakan hal yangdubious (sesuatu
yang tidak dapat diobservasi secara langsung dan nyata).Menurut Ivan Pavlov,
aktivitas organisme dapat dibedakan atas :
a)
Aktivitas yang bersifat
reflektif
Aktivitas
organisme yang tidak disadari oleh organisme yang bersangkutan. Organisme
membuat respons tanpa disadari sebagai reaksi terhadap stimulus yang
mengenainya.
b)
Aktivitas yang disadari
Aktivitas yang
disadari merupakan aktivitas atas kesadaran organisme yang bersangkutan. Ini
merupakan respons atas dasar kemauan sebagai suatu reaksi terhadap stimulus
yang diterimanya. Ini berarti bahwa stimulus yang diterima oleh organisme itu
sampai di pusat kesadaran dan barulah terjadi suatu respons. Dengan demikian maka
jalan yang ditempuh oleh stimulus dan respons atas dasar kesadaran lebih
panjang apabila dibandingkan dengan stimulus dan respons yang tidak disadari
atau respons yang reflektif.
1.
Eksitasi (Kegairahan) dan Hambatan
Menurut
Pavlov,dua proses dasar yang mengatur semua aktivitas sistem saraf sentral
adalah excitation(eksitasi) dan inhibition(hambatan).
Eksitasi dan hambatan adalah sisi-sisi dari
proses yang sama,keduanya selalu ada secara bersamaan,namun proporsinya selalu
bervariasi di setiap saat, kadang yang satu lebih menonjol,dan kadang yang
satunya lagi yang lebih menonjol. Menurut Pavlov setiap kejadian di lingkungan
berhubungan dengan beberapa titik di otak dan saat kejadian ini dialami,ia
cenderung menggairahkan atau menghambat aktivitas otak. Jadi, otak
terus-menerus dirangsang atau dihambat,tergantung pada apa yang dialami oleh
organisme. Jadi, jika satu nada secara terus-menerus diperdengarkan ke seekor
anjing sebelum ia diberi makan, area di otak yang dibangkitkan oleh nada suara
itu akan membentuk koneksi temporer dengan area otak yang merespons ke makanan.
Ketika koneksi ini terbentuk, presentasi nada akan menyebabkan hewan bertindak
seolah-olah makanan akan disajikan,itu tanda bahwa reflek yang dikondisikan
sudah terjadi.
2.
Stereotip Dinamis
Ketika terjadi
secara konsisten dalam suatu lingkungan, mereka akan memiliki representasi
neutrologis dan respons terhadap mereka akan mungkin lebih terjadi dan lebih
efisien. Jadi, respons terhadap lingkungan yang sudah di kenal akan makin cepat
dan otomatis. Ketika ini terjadi, dynamic
stereotype (stereotip dinamis) di katakana telah terjadi. Secara garis
besar, stereotip dinamis adalah mosaic kortikal yang menjadi stabil karena
organism berada dalam lingkungan yang dapat di prediksi selama periode waktu
tertentu yang lumayan panjang. Selama pemetaan kortikal ini dengan
merefleksikan lingkungan dan menghasilkan respons yang tepat, maka segala
sesuatu akan baik-baik saja. Tetapi jika lingkungan berubah secara radikal,
organisme mungkin kesulitan
untuk mengubah stereotip dinamis.
Jadi, kejadian lingkungan tertentu
cenderung di ikuti oleh kejadian lingkungan lainnya, dan selama hubungan ini
terus terjadi, asosiasi antara keduanya pada level neural akan menguat. Jika
lingkungan berubah cepat, jalur neural baru harus di bentuk dan itu bukan tugas mudah.
3. Iradiasi dan Konsentrasi
Pavlov menggunakan istilah analyser untuk mendiskripsikan jalur dari satu reseptor indrawi ke
area otak tertentu. Suatu analyser terdiri dari resptor indrawi jalur sensoris
dari reseptor ke otak dan area otak yang diproyeksikan oleh aktivitas sensoris.
Informasi sensoris yang diproyeksikan ke beberapa area otak akan menimbulkan
eksitasi di area itu. Pada awal terjadinya irradiation of excitation (iradiasi eksitasi) dengan kata
lain eksitasi ini akan menular ke area otak lain didekatnya. Proses ini dipakai
Pavlov untuk menjelaskan generalisasi. Penjelasan Pavlov tentang
generalisasi adalah bahwa implus neural berjalan dari reseptor indra,
dari telinga ke area tertentu di otak yang bereaksi terhadap nada 2.000-cps.
Pavlov juga menemukan bahwa concentration (konsentrasi), sebuah proses yang
berlawanan dengan iradiasi, mengatur eksitasi dan hambatan. Proses iradiasi
dipakai untuk menjelaskan proses generalisasi sedangkan proses konsentrasi
dipakai untuk menjelaskan diskriminasi. Pertama – tama organisme punya tendensi
umum untuk merespon CS selama pengkondisian. Tetapi dengan latihan yang lama,
tendensi untuk merespons dan tak merespons akan menjadi kurang umum dan semakin
spesifik ke arah stimuli tertentu.
4. Pengkondisian Eksitatoris dan Inhibitoris
Pavlov mengidentifikasikan dua tipe umum dari pengkondisian.
Yang pertama, exciatory conditioning, akan tampak ketika pasangan CS-US
menimbulkan suatu respons : Sebuah bell (CS) yang di pasangkan berulang kali
dengan makanan(US) sehingga penyajian CS akan menimbulkan air liur (CR) ; satun
nada (CS) di pasangkan berulang kali dengan tiupan angin (US) langsung ke mata
(yang menyebabkan mata secara refleks berkedip [UR]) sehingga penyajian CS saja
akan menyebabkan mata berkedip.
Conditioned inhabitationtampak
ketika training CS menghambat atau menekan suatu respons. Misalnya Pavlov
berspekulasi bahwa pelenyapan mungkin di sebabkan oleh munculnya hambatan
setelah CS yang menimbulkan respons itu di ulang tanpa suatu penguat.
External inhabitation
(hambatan eksternal) adalah istilah yang di pakai Pavlov untuk mendeskripsikan
efek sidtruptif yang terjadi ketika stimulus baru di sajikan bersama CS yang
sudah ada. Tetapi, efeknya tidak terbatas hanya pada eksitasi yang di
kondisikan. Jika CS adalah penghambat yang di kondisikan, pengenalan stimulus
yang tak terduga aka menghasilkan disinhibitation, yang merupakan
disrupsi (gangguan) terhadap hambatan yang di kondisikan.
2.6. Riset Terbaru Tentang Pengkondisian Klasik
Dalam
analisisnya terhadap pengkondisian, Pavlov menekankan pada kontiguitas. Yakni,
jika CS mendahului US, pada akhirnya CS akan menghasilkan CR. Ada dua
ketidakakuratan yang ada dalam teori Pavlov. Pertama adalah pendapatnya
mengenai CR sebagai versi kecil dari UR; dan kedua adalah pernyataannya bahwa
pelenyapan melibatkan hambatan.
CR
tidak selalu merupakan UR kecil. Pavlov percaya
bahwa selama jalannya pengkondisian CS akan menggantikan US, dan itulah mengapa
pengkondisian klasik kadang disebut sebagai stimulus substitute
learning. Diasumsikan bahwa karena CS bertindak sebagai pengganti (substitute)
US, maka CR adalah versi kecil dari UR. Akan tetapi, studi yang cermat terhadap
sifat dari CR menunjukkan bahwa CR seringkali berbeda dengan UR.
Contoh
dari pertentangan CR dan UR ditemukan ketika obat dipakai sebagai US. Shepard
Siegel (1979) mendeskripsikan serangkaian eksperimen dimana morfin dipakai
sebagai US. Salah satu reaksi terhadap morfin adalah analgesia atau
berkurangnya kepekaan terhadap rasa sakit. Dalam pengaruh morfin, seekor tikus
membutuhkan waktu lebih lama untuk menarik cakarnya dari piring panas daripada
tikus yang tidak dikuasai pengaruh morfin. Karena suntikan mendahului
pengalaman merasakan morfin (US), maka suntikan itu dapat dianggap sebagai CS.
Jadi, setelah beberapa kali suntikan morfin, menyuntik seekor tikus dengan air
seharusnya akan mereduksi kepekaan terhadap rasa sakit. Tetapi yang terjadi
adalah sebaliknya. Ternyata, dalam situasi yang dideskripsikan diatas, tikus
justru lebih peka terhadap rasa sakit. Yakni, hewan yang sebelumnya disuntik
dengan morfin dan kemudian disuntik dengan air menarik cakar mereka
dari piring panas dengan lebih cepat daripada hewan yang belum pernah
disuntik dengan morfin. CR (meningkatnya kepekaan terhadap rasa sakit)
tampaknya bertentangan dengan UR (penurunan kepekaan terhadap rasa sakit).
Ditemukan bahwa
(misalnya, Holland, 1977) bahkan ketika digunakan US yang sama, akan muncul CR
yang berbeda-beda ketika CS yang berbeda dipasangkan dengan US itu. Jelas
hubungan antara CR dan UR adalah lebih kompleks daripada yang diasumsikan
Pavlov. Ternyata terkadang CR mirip dengan UR, terkadang CR membuat organisme
bersiap mengantisipasi US, terkadang CR bertentangan dengan UR.
Pelenyapan
melibatkan intervensi. Pavlov percaya bahwa selama pelenyapan,
presentasi CS yang tak diperkuat akan menghasilkan hambatan yang dikondisikan
yang menekan atau mengganti asosiasi eksitatoris yang telah dipelajari
sebelumnya antara CS dan US. Karenanya, mekanisme teoritis yang mendasari
pelenyapan eksperimental dan respons yang dikondisikan adalah hambatan, bukan
eliminasi koneksi CS-US.
Overshadowing dan Blocking.
Pavlov mengamati bahwa jika dia menggunakan satu stimulus majemuk (gabungan)
sebagai CS dan satu komponen dari stimulus tersebut lebih menonjol daripada
komponen lainnya, maka yang komponen paling menonjollah yang dikondisikan.
Fenomena ini disebut Overshadowing.
Fenomena Overshadowing (membayangi)
ini secara teoretis menarik sebab kedua elemen dari stimulus majemuk disajikan
secara berdampingan dengan US, namun pengkondisian hanya dengan hanya terjadi
dalam satu elemen. Banyak riset pengkondisian klasik saat ini didesain untuk
menjelaskan fenomena Overshadowing dan fenomena blocking.
Pada
1969, Leon Kamin melaporkan serangkaian percobaan penting tentang fenomena yang
disebutnya blocking. Kamin menggunakan variasi prosedur CER (Conditioned
Emotional Response) untuk menunjukkan konsep blocking.
Blocking, seperti
overshadowing, menunjukkan contoh situasi dimana stimuli dipasangkan sesuai
dengan prinsip pengkondisian klasik namun tidak menimbulkan pengkondisian.
Sekali lagi tampak bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar kontiguitas
stimulus dalam pengkondisian klasik.
2.7 Penerapan Teori Behaviorisme
Pengondisian Klasikal dalam Pendidikan dan Pembelajaran
Dalam bidang pendidikan, teori pengondisian klasik digunakan
untuk mengembangkan sikap yang menguntungkan terhadap pesrta didik untuk
termotivasi belajar dan membantu guru untuk melatih kebiasaan positif peserta
didik.
Penerapan classical conditioning merupakan
metode terapi dalam merubah perilaku yang bersifat maladaptive dan
merubahnya menjadi perilaku yang adaptif. Misalnya rasa takut terhadap
pelajaran matematika diubah menjadi rasa senang dengan pelajaran matematika.
Aliran psikologi belajar yang
sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek
pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini
menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan reinforcement
dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori belajar
behaviorisme ini
dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan
pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pembelajar, media dan fasilitas
pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behaviorisme memandang
bahwa pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan
telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan,
sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi
mind atau pikiran adalah untuk
menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang
dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses
berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan
tersebut. Pelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap
pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru
itulah yang harus dipahami oleh murid.
Metode behaviorisme pengondisian
klasikal ini sangat cocok untuk perolehan
kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur
seperti kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya.
Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan
dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru
dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau
pujian.
1) Penerapan
Prinsip-prinsip Teori Belajar Classical Conditioning dalam Pengajaran
Pengaruh keadaan klasik membantu
menjelaskan banyak pelajaran di mana satu stimulus diganti/ digantikan untuk
yang lain. Satu contoh yang penting tentang proses ini adalah pelajaran atraksi
emosional dan ketakutan. Bahwa bentakkan seorang guru seringkali membuat takut
murid-muridnya, hal yang sama seorang polisi mempermainkan penjahat dengan
ancungan tangannya, atau seorang perawat hendak memberi suntikan kepada
pasiennya. Semua perilaku ini menciptakan tanggapan perhatian dan ketakutan di
hati orang-orang tersebut dibawah kesadaran
mereka. Situasi ini memberikan
pengaruh ketakutan bila stimulus tidak netral:
Guru Sorak ( US) membentuk perhatian
dan ketakutan pada anak ( UR) ; Polisi mendorong dengan penuh ancaman (US)
membentuk Perhatian dan Ketakutan masyarakat (UR)
Manapun stimulus netral yang
berulang-kali terjadi bersama-sama dengan stimuli ini cenderung untuk dikondisikan
(C) ke ketakutan sebagai respon. Jika seorang guru selalu meneliti seorang
anak, kemudian hanya memperhatikan dia tanpa mengkritik boleh jadi membuat dia
menaruh
perhatiannya. Hal yang ekstrim, anak
bisa berhubungan dengan guru di kelas dengan perhatian dan ketakutannya yang ia
kembangkan samarata, atau ketakutan yang kadang tidak masuk akal. Hal yang sama
juga dialami masyarakat phobia polisi, atau pasien, tentang perawat.Tetapi
tanggapan positif dapat dibangun secara sederhana untuk mengkondisikan
stimulus. Jika seorang guru memuji seorang siswa maka akan menimbulkan hal positif
baginya, bahkan ketika dia tidak lagi dipuji. Pada akhirnya, proses ini dapat
membangun hubungan baik di kelas. Hal yang sama untuk polisi, perawat, atau
orang yang bekerja dengan orang-orang: stimuli yang dapat dipercaya menimbulkan
hal positif tanggapan tersebut dapat dikondisikan untuk lain. Penggantian
stimulus dapat membantu bahkan pada pelajaran tertentu yang tidak berisi unsur
perasaan. Pengaruh tersebut tidak memerlukan refleks sebagai titik awal.
Beberapa
Psikolog menyebutnya belajar berlanjut atau asiosatif learning, hanya
memerlukan dua stimuli yang tidak bertalian terjadi bersama-sama pada suatu
tanggapan atau keduanya dari stimulus yang ada. Jika seorang anak telah
mempelajari bagaimana cara menggunakan unit balok kecil, kemudian stimuli ini
dapat dipasangkan dengan hal yang lebih abstrak, mereka akan dapat menulis
padanan menulis padanan yang menghasilkan apa yang diinginkan dengan baik.
Dalam praktek pendidikan mungkin bisa kita temukan seperti lonceng berbunyi
mengisyaratkan belajar dimulai dan atau pelajaran berakhir. Pertanyaan guru
diikuti oleh angkatan tangan siswa, suatu pertanda siswa dapat menjawabnya.
Kondisi-kondisi tersebut diciptakan untuk memanggil suatu respon atau tanggapan
ahli pendidikan lain juga menyarankan bahwa panduan belajar dengan
mengkombinasikan gambar dan kata-kata dalam mempelajari bahasa, akan sangat
berguna dalam mengajar perbendaharaan kata-kata. Memasangkan kata-kata dalam bahasa
Inggris dengan kata-kata bahasa lainnya akan membantu para siswa dalam membuat
perbendaharaan kata dalam bahasa asing.
Dalam
pengertian yang lebih luas lagi misalnya memasangkaan maakna suatu konsep
dengan pengalaman siswa sehari-harinya akan membantu siswa dalam memahami
konsep-konsep lainnya. Walaupun classical conditioning terus menjadi
bidang yang aktif dalam psikologi saat ini, sebagian para ahli telah mulai
meninggalkan teori psikologi ini.
2)
Penerapan Prinsip-prinsip Teori Belajar Classical
Conditioning di Kelas
Berikut
ini beberapa tips yang ditaawarkan oleh Woolfolk (1995) dalam menggunakan
prinsip-prinsip kondisioning klasik di kelas.
a. Memberikan
suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar, misalnya:
1.
Menekankan pada kerjasama dan kompetisi antarkelompok
daripada individu, banyak siswa yang akan memiliki respons emosional secara
negatif terhadap kompetisi secara individual, yang mungkin akan
digeneraalissikan dengan pelajaran-pelajaran yang lain;
2.
Membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan dengan
menciptakaan ruang membaca (reading corner) yang nyaman dan enak serta
menarik, dan lain sebagainya.
b. Membantu
siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan atau
menekan, misalnya:
1.
Mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkaan siswa
lain cara memahami materi pelajaran;
2.
Membuat tahap jangka pendek untuk mencapai tujuan
jangka panjang, misalnya dengaan memberikan tes harian, mingguan, agar siswa
dapat menyimpaan apa yang dipelajari dengan baik;
3.
Jika siswa takut berbicara di depan kelas, mintalah
siswa untuk membacakan sebuah laaporan di depan kelompok kecil sambil duduk di
tempat, kemudian berikutnya dengan berdiri. Setelah dia terbiasa, kemudian
mintalah ia untuk membaca laporan di depaan seluruh murid di kelas.
c. Membantu
siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi-situasi sehingga
mereka dapat membedakan dan menggeneralisasikan secara tepat. Misalnya, dengan:
1.
Meyakinkan siswa yang cemas ketika menghadapi ujian
masuk sebuah sekolah yang lebih tinggi tingkatannya atau perguruan tinggi,
bahwa tes tersebut sama dengan tes-tes prestasi akademik lain yang pernah
mereka lakukan;
2.
Menjelaskan bahwa lebih baik menghindari hadiah yang
berlebihan dari orang yang tidak dikenal, atau menghindar tetapi aman daan
dapat menerima penghargaan dari orang dewasa ketika orangtua ada.
Sebagai
guru, kita harus mengetahui bagaimana mengurangi counterproductive kondisi
responsif yang dialami para siswa. Psikolog sudah mempelajari ke arah itu untuk
memadamkan hal negatif sebagai reaksi emosional pada stimulus dikondisikan
tertentu tidak lain untuk memperkenalkan stimulus itu secara pelan-pelan dan
secara berangsur-angsur sehingga siswa bahagia atau santai ( M.C.Jones, 1924;
Wolpe, 1969). Satu contoh, jika Imung seorang yang takut berenang, kita mungkin
mulai pelajaran berenangnya pada tempat yang dangkal seperti bayi bermain dalam
tempat mandinya kemudian bergerak perlahan-lahan ke air yang lebih dalam, maka
ia akan merasa lebih nyaman untuk mencoba berenang.
Tidak ada
hal yang paling membanggakan pada guru selain membantu dan membuat siswa
menjadi sukses dan merasa senang di kelas. Satu hal yang perlu guru ingat bahwa
kelas dapat membuat perilaku baik siswa, meningkat atau justru melemahkannya.
2.8 Kekuatan dan
Kelemahan Teori Behaviorisme
Teori belajar yang dikemukakan oleh
Pavlov, secara prinsipal bersifat behavioristik dalam arti lebih
menekankan timbulnya perilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur.
Teori tersebut terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Teori yang sudah
terlanjur diyakini banyak orang ini tentu saja mengandung banyak kelemahan.
Kelemahan teori tersebut adalah sebagai berikut.
1. Proses belajar itu dipandang dapat
diamati langsung padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat
disaksikan dari luar kecuali sebagian gejalanya.
2. Proses belajar itu dipandang
bersifat otomatis–mekanis, sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot,
padahal setiap siswa memiliki self-regulation (kemampuan mengatur diri
sendiria) dan self control (pengendalian diri) yang bersifat kogniti,
dan karenanya ia bisa menolak, merespon jika ia tidak menghendaki, misalnya
karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.
3. Proses belajar manusia dianalogikan
dengan prilaku hewan itu sangat sulit diterima mengingat amat mencoloknya
perbedaan antara karakter fisik dan psikis hewan.
4. Behaviorisme sangat dikenal
dengan pandanganya bahwa pembelajar adalah individu yang pasif yang
bertugas hanya memberi respon kepada stimulus yang deberikan. Pembentukan
prilaku sangat ditentukan oleh penerapan reinforcement atau punishment.
Oleh sebab itu belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku.
5. Behaviorisme menggeneralisir hasil
eksperimen terhadap hewan kepada manusia. Oleh sebab itu generalisasi tersebut
kurang berhasil apabila diterapkan kepada orang dewasa.
Kekuatan teori ini adalah sebagai
berikut.
1. Behaviorisme melakukan penelitiannya
terhadap prrilaku berdasarkan yang tampak atau observable behaviors. Oleh
sebab itu mempermudah proses penelitian karena prilaku dapat dikuantifikasi.
2. Teknik terapi prilaku yang efektif
secara intensif menggunakan intervensi berbasis behaviorisme. Pendekatan ini
sangat bermanfaat dalam merubah perilaku yang mal adaptif menjadi perilaku
adaptif dan dapat diterapkan pada anak dan orang dewasa.
DAFTAR
PUSTAKA
Alex
Sobur. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Hergenhahn
dan Matthew H. Olson. 2008. Theories Of Learnig (Teori Belajar).
Jakarta: Kencana.
Nurhidayati,
Titin. Maret 2012. Implementasi Teori Belajar Ivan Petrovich
Pavlov (classical conditioning) dalam Pendidikan. Jurnal Falasifa. Volume 3, No. 1,(online), (http://jurnalfalasifa.files.wordpress.com/2012/11/2-titin-nurhidayati-implementasi-teori-belajar-ivan-petrovich-pavlov-classical-conditioning-dalam-pendidikan.pdf, di akses 7 November 2014).
Raharyanti,
Anjar. 2012. Teori Pembelajaran Ivan
Pavlov (online), (http://ajenganjar.blogspot.com/2012/04/teori-pembelajaran-ivan-pavlov.html, di
akses 20 September 2014).
Wikipedia. 2013. Ivan Pavlov (online),
(http://id.wikipedia.org/wiki/Ivan_Pavlov, di
akses 20 September 2014).
Komentar
BalasHapuswah anda begitu cantik
BalasHapusping ping :D
BalasHapus